Oleh Edy Setyawan

Ngapain ke Tasmania? Pertanyaan ini kerap ditujukan ke saya. Dengan sedikit mengejek, ada juga yang mengatakan, “Ngapain ke Tasmania? Di sana kan lebih banyak domba daripada manusia.”.

Malam itu, medio 2014, di kontrakan kami di Denpasar. Hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu dari Australia Award Scholarship untuk menentukan pilihan universitas untuk studi saya di Australia, saya bersama istri masih memilah dan memilih universitas dan kota yang akan menjadi ‘rumah’ kami selama kurang lebih dua tahun di negeri bangsa Aborigin. Brisbane…? Launceston…? Townsville…? Perth…? Setelah berdiskusi panjang lebar dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria, akhirnya University of Tasmania di Launceston yang terpilih.

Peta kota-kota besar dan utama di Australia
Peta kota-kota besar dan utama di Australia

Sederhana saja. Kriteria-kriteria yang menjadi pertimbangan kami waktu itu, diantaranya program studi yang ditawarkan, kehidupan kota, sistem transportasi, kemudahan untuk mengeksplorasi alam, serta cuaca dan iklim.

Program studi. Di Australia, saya menempuh program master by coursework, dimana program ini meliputi kegiatan perkuliahan di kampus yang mengharuskan hadir di kampus dan mengerjakan sejumlah tugas sebagai persyaratan kelulusan. Jujur saja, saya tidak ingin menghabiskan dua tahun masa studi hanya duduk di bangku kuliah, karena saya lebih tertarik melakukan riset atau penelitian. Diantara universitas yang ada di daftar saya, hanya Institute of Marine and Antarctic Studies di University of Tasmania yang menawarkan 50% coursework dan 50% research. Satu tahun kuliah dan satu tahun riset. Saya pikir ini sempurna buat saya. Sementara, universitas lain hanya menawarkan 25% atau 30% research, seperti universitas di Perth dan Brisbane.

Kehidupan sosial. Rencananya saya akan membawa serta keluarga kecil saya ke Australia. Saat itu, sang Nusantara masih di dalam perut ibunya. Akan lebih seru tentunya hidup di luar negeri bersama mereka, pikir saya waktu itu. Kami juga mencari lingkungan yang nyaman dan sesuai untuk membesarkan sang Nusantara. Kami mencari kota kecil yang tenang dan jauh dari kebisingan dan keramaian kehidupan kota besar, seperti Jakarta dimana kami pernah tinggal beberapa waktu lalu. Dari empat kota yang ada dalam daftar saya, hanya Launceston dan Townsville yang masuk nominasi.

Sistem transportasi. Berdasarkan riset kecil yang kami lakukan dan berdasarkan pengalaman saya beberapa tahun lalu saat mengunjungi Brisbane, kota-kota besar di Australia pada umumnya sudah memiliki sistem transportasi yang baik. Bus, kereta, dan trem menjadi alat transportasi yang diandalkan untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dengan ketepatan waktu yang cukup akurat. Apakah kami mencari hal ini? Tidak. Kami justru mencari kota dengan sistem transportasi yang tidak sekomplet itu, karena kami ingin memiliki mobil sendiri. Kata seorang teman yang sudah di sana, harga mobil jauh lebih murah. Selain itu, kami juga ingin jalan-jalan mengeksplorasi alam Tasmania dengan mobil kami sendiri. Sistem transportasi yang kurang oke tentunya akan ‘memaksa’ kami menyetir mobil sendiri terus. Saya akan bercerita lebih detail mengenai hal ini di tulisan lain. Anyway, Launceston dan Townsville kembali masuk nominasi.

Eksplorasi alam. Katanya alam Tasmania itu luar biasa indah. Mulai dari laut, pantai, hutan, hingga gunungnya, semuanya unik dan menarik. Alam yang indah menjadi salah satu kriteria penting dalam daftar kami. Kebetulan, kami berdua memang suka menghabiskan waktu di alam. Kami juga berencana untuk membawa sang Nusantara untuk lebih dekat dengan alam. Kami percaya, alam merupakan guru terbaik. Kami pun berselancar di internet dan menemukan bahwa Townsville di Queensland menawarkan keindahan pantai dan jarak yang dekat ke Great Barrier Reef, sedangkan Launceston menawarkan keindahan pantai dan gunung yang lebih unik dan bervariasi daripada di Townsville dan sekitarnya. Pada kriteria ini, Launceston lebih unggul daripada Townsville.

Batu-batuan berwarna jingga kemerahan menjadi ciri khas dari Binalong Bay yang terletak pantai timur Tasmania. Foto: Edy Setyawan
Batu-batuan berwarna jingga kemerahan menjadi ciri khas dari Binalong Bay yang terletak pantai timur Tasmania. Foto: Edy Setyawan

Cuaca dan iklim.

Salju. Kami ingin merasakan dingin dan lembutnya salju. Sesederhana itu. Apakah Tasmania memiliki salju? Tasmania termasuk salah satu kawasan di Australia yang terdapat salju. Sebagai manusia yang seumur hidup tinggal di daerah tropis, salju hanya bisa dilihat melalui televisi atau internet. Selain itu, iklim subtropis yang dominan menyebabkan Tasmania memiliki empat musim yang sangat berbeda dan unik. Sementara itu, Townsville di Queensland menawarkan iklim tropis yang perbedaan suhu dan iklimnya tidak berbeda jauh. Sampai pada kriteria ini, Tasmania menang telak.

Dalam keyakinan saya, perjalanan ke Tasmania ini bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan sudah menjadi takdir Allah ‘azza wa jalla. Sebenarnya, Tasmania tidaklah asing bagi saya. Sewaktu saya masih kecil, saya sering mengamati peta Australia dan Tasmania melalui atlas. Secara geografis, daratan Australia dan Tasmania memang unik, sehingga saya punya imajinasi tersendiri tentang bentuk kedua lanskap tersebut. Dalam keyakinan saya, hobi masa kecil tersebut sudah membawa saya ke Tasmania atas dukungan alam semesta. Tidak jarang hal ini terjadi pada saya. Silakan baca kisah saya tentang hal ini di sini.

Advertisements