Gemericik aliran air semakin terdengar seiring dengan langkah kaki yang terus menuruni jalan setapak. Dari kejauhan, tampak air sungai terus mengalir seperti disedot oleh mulut goa karst yang menganga lebar.

Yogyakarta selama ini dikenal dengan keramahan masyarakat dengan tradisi terasa sangat kental dan membudaya dalam keseharian. Kota ini juga dikenal dengan berbagai kerajinan dan kesenian tradisional. Namun demikian, keindahan dan keunikan alam Yogyakarta juga tidak kalah mempesona dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Siapa yang tidak tahu Candi Prambanan? Pantai Parang Tritis, Keraton Yogyakarta? Malioboro?Yogyakarta

Bagaimana dengan Kalisuci? Tidak seperti kebanyakan sungai lainnya, Kalisuci, yang berarti sungai suci, memiliki mata air yang sangat jernih di hulu sungai. Menurut masyarakat setempat, mata air ini tetap jernih meskipun air sungai keruh karena musim hujan. Sungai ini termasuk unik karena ini mengalir melewati goa-goa karst.

Kalisuci, terletak di Kabupaten Gunung Kidul, menawarkan petualangan seru untuk menyusuri sungai sekaligus menjelajahi goa dengan menggunakan ban, yang lebih dikenal dengan Cave Tubing.

2
Menikmati serunya menyusuri sungai sambil menjelajah goa karst di Kalisuci, Yogyakarta

Semua peralatan keamanan sudah terpasang. Helm, pelampung, pelindung sikut dan lutut sudah siap melindungi pada saat menyusuri sungai di antara celah bebatuan di Kalisuci. Dari camp, Setiap cave tuber sudah siap dengan ban dan menuruni jalan setapak menuju tepi sungai. Ban yang dimaksud adalah ban dalam dengan diameter kurang lebih 1 meter untuk dinaiki saat meluncur di derasnya aliran sungai.

Gemericik aliran air semakin terdengar seiring dengan langkah kaki yang terus menuruni jalan setapak. Dari kejauhan, tampak air sungai terus mengalir seperti disedot oleh mulut goa karst yang menganga lebar.

Let’s do this! Satu per satu, para cave tuber pun turun ke sungai. Tiga orang pemandu lokal yang sudah terlatih membantu setiap orang untuk naik ke ban yang sudah mengambang di atas air sungai. Cave tubers sudah membentuk barisan panjang seperti kereta dengan meletakkan kedua kaki di atas pundak cave tuber yang ada di depannya, sambil berpegangan pada kedua kaki yang diletakkan di pundaknya juga.

“Kereta” pun mulai meluncur memasuki goa yang besar dan gelap dengan celah yang cukup sempit. Stalagtit dan stalagmit yang menghiasai dasar dan atap goa menampakkan pemandangan yang megah. Dasar sungainya pun sebenarnya tidak terlalu dalam karena para pemandu yang berada di barisan paling depan dan belakang pun masih bisa berdiri menapak dasar sungai.

Lima menit kemudian, ujung goa sudah menampakkan pemandangan menarik dengan tebing-tebing yang dihiasi tanaman hijau dan lumut dan batu-batu besar yang ada di sepanjang sungai. Aliran air sungai memang tidak terlalu deras saat itu, sehingga para pemandu pun mendorong ban supaya para cave tuber bisa meluncur melewati bebatuan.

Meluncur dengan menggunakan ban sangatlah seru, walaupun tidak cukup untuk memacu adrenalin. Tidak jarang para cave tuber ini terguling saat meluncur melewati jeram kecil karena kehilangan keseimbangan. Saling dorong dan saling tabrak antar ban pun tidak terelakkan karena sungai yang tidak terlalu lebar. Meskipun sudah menggunakan peralatan pengaman, para cave tuber sebaiknya menggunakan alas kaki yang bisa melindungi kaki dari benturan terhadap batu.

Selama kurang lebih satu jam, para cave tuber menjelajahi sungai dan goa. Namun, ini semua belum berakhir. Untuk kembali ke camp, para cave tuber harus menaiki tebing yang cukup curam setinggi kurang lebih 60 meter. Wah…lumayan juga kalau jarang olahraga hehe. Seutas tali tambang sudah dipasang sebagai alat pengaman saat mendaki tebing ini. Menarik untuk dicoba!

Advertisements