“Cak..cak..cak..cak..cak..cak…!!” Terdengar teriakan puluhan laki-laki duduk bersila, membentuk tiga lapisan lingkaran di sekitar obor. Sesekali mereka berdiri sambil mengangkat tangan sambil berseru dan berteriak memecahkan suasana temaram saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Di Uluwatu, ratusan turis tampak hikmat menyaksikan pertunjukkan khas Bali ini. Tari Kecak.

BaliTari Kecak telah menjadi salah satu ciri khas budaya Bali. Kelihatannya perjalanan di Bali terasa tidak lengkap, kalau belum menyaksikan tarian yang sama sekali tidak menggunakan alat musik dan hanya dilakukan pada saat matahari tenggelam ini. Di Uluwatu, ratusan turis sudah duduk manis di sekitar panggung melingkar yang disusun ke atas yang memudahkan penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Calon penonton terus berdatangan dan memenuhi seluruh tempat duduk. Area pertunjukan semakin sempit, karena calon penonton yang tidak mendapatkan bangku menempatkan dirinya di area pertunjukan.

Hanoman yang telah tertangkap oleh raksasa-raksasa utusan Rahwana, dengan tangan terikat, dibakar di tengah kobaran api

Matahari sudah semakin tenggelam, tampak jelas dari area pertunjukkan tari kecak yang menghadap ke laut. Secara berurutan, laki-laki bertelanjang dada dan bersarung kotak-kotak mulai memasuki area pertunjukan. Sekitar 60-70 laki-laki berdiri dan berbaris dengan rapi melingkar di sekitar obor. Sambil mengangkat kedua tangan, suara teriakan memecah keheningan. Pertunjukan dimulai!

Di Uluwatu, Tari kecak bercerita tentang Ramayana; kisah Hanoman yang berusaha menyelamatkan Dewi Sinta, istri Sri Rama, dari kejahatan Rahwana. Hanoman sendiri adalah dewa kera berwarna putih yang diutus oleh Sri Rama untuk menyampaikan kepada Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana. Setelah menyampaikan pesan kepada Dewi Sinta, Hanoman kemudian mengobrak-abrik kerajaan Rahwana. Rahwana yang murka kemudian mengutus para raksasa untuk menangkap di Dewa Kera. Hingga akhirnya, Hanoman yang tertangkap pun diikat dan dibakar di tengah kobaran api. Bukan Dewa tentunya kalau tidak bisa menyelamatkan diri dari api. Hanoman pun berhasil menyelamatkan diri dan mengalahkan para raksasa utusan Rahwana.

Pada awalnya, pertunjukan ini terasa kurang seru karena kurangnya gerakan atraktif dari pada penarinya meskipun mereka terus “bermusik” dengan berteriak dan berseru. Namun seiring dengan tenggelamnya matahari, pertunjukan menjadi semakin segar dengan tingkah dan polah jenaka dan interaktif dari Hanoman si Dewa Kera. Menarik untuk disaksikan!

Advertisements