Indonesia memang tidak pernah habis dengan hal-hal yang unik. Salah satu hal unik yang bisa kita temukan adalah keberadaan hiu berjalan yang ada di perairan Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Kalabia – begitulah masyarakat Papua memanggilnya – memang berbeda dengan jenis-jenis hiu yang lainnya yang selama ini kita kenal keganasannya dan sangat aktif bergerak di air. Ikan hiu ini lebih suka bergerak dengan menggunakan dua sirip pectoral/dada dan dua sirip ventral (perut), sehingga seakan-akan hiu ini bergerak dengan cara merayap di dasar laut.

Freycinet's Epaulette Shark (Hemiscyllium freycineti)
Kalabia, the walking shark, is an endemic species in Raja Ampat Islands, West Papua, Indonesia. It is not like other species of sharks known as wild predators and actively swim in the water column. It walks with its two pectoral fins and two ventral fins on the sea bottom, although it can swim as well if necessary. It is a nocturnal species, which actively hunts for invertebrates during the night and sleeps during the day inside the reefs.

Hewan nokturnal ini baru akan aktif di malam hari untuk berburu invertebrata – menu diet favoritnya – dan akan tidur pada siang hari di bawah atau di dalam celah-celah terumbu karang. Kalabia (Freycinet’s Epaulette shark) termasuk ke dalam keluarga hiu bambu (bamboosharks) memiliki bentuk tubuh yang panjang dan ramping dengan corak warna yang khas, yaitu warna dasar putih kecoklatan dengan totol-totol kecil dan besar berwarna cokelat muda dan hitam.

Di Papua, Kalabia juga dapat ditemukan di perairan Teluk Triton – Kaimana maupun di perairan Teluk Cenderawasih. Namun, saudara sepupunya tersebut merupakan spesies yang berbeda, yaitu Hemiscyllium henryi di Teluk Triton dan Hemiscyllium galei di Teluk Cenderawasih.

Advertisements