This “bridge” is connecting the life of people from two villages, Plempungan in Karanganyar Regency and Suro Village in Boyolali Regency, Central Java, Indonesia. However, it is indeed an irrigation channel, which was built during the Dutch colonization to drain water from Cengklik reservoir to rice fields nearby. These days, people use this irrigation channel as their shortcut to the neighbouring village. 

“Jembatan” ini menghubungkan antara dua desa, yaitu Plempungan di Kabupaten Karanganyar dan Desa Suro di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Rangkaian batang besi panjang ini sebenarnya bukanlah jembatan, melainkan saluran irigasi yang mengalirkan air dari Waduk Cengklik menuju sawah-sawah di sekitarnya. Menurut warga setempat, saluran irigasi ini dibangun pada saat Belanda masih berkuasa di Indonesia. Namun, masyarakat di sekitar saluran irigasi ini memanfaatkannya sebagai jembatan dengan menambahkan lembaran-lebaran kayu di atas batang-batang besi yang melintang di atas saluran air.

The "bridge" that connected Plempungan and Suro Village
The “bridge” is connecting Plempungan village (Karanganyar Regency) and Suro Village (Boyolali Regency), Central Java, Indonesia. However, it is indeed an irrigation channel, which was built during the Dutch colonization to drain water from Cengklik reservoir to many rice fields nearby. These days, people use this irrigation channel as their shortcut to neighbouring village.

Saluran irigasi selebar ±1,5 meter ini tergantung di atas jurang sedalam 15-20 meter oleh 2 pasang besi panjang melengkung di antara dua struktur penahan di ujung saluran. Sementara itu, air mengalir di atas lempengan besi tipis.  Tepat di atas aliran air tersebut, terdapat batang-batang besi yang dipasang melintang. Di batang-batang besi inilah masyarakat memasang papan-papan kayu selebar tidak lebih dari 40 cm sebagai jalan untuk melintasi “jembatan” ini.

Tidak hanya dengan berjalan kaki, namun masyarakat juga menyeberangi “jembatan” ini dengan sepeda onthel dan bahkan sepeda motor. Daripada harus memutar jauh untuk menuju desa sebelah, masyarakat lebih memilih untuk menyeberang di atas papan kayu dengan mempertaruhkan nyawa. Menurut warga setempat, pernah ada orang yang jatuh dari “jembatan” ini. Berbahaya sekali memang. Bagaimana tidak, papan untuk berpijak lebarnya sangat pas-pasan, kanan kiri langsung jurang menganga lebar. Salah langkah, nyawa bisa jadi taruhan.

Saya salut dengan warga masyarakat yang berani mempertaruhkan keselamatan mereka untuk menyeberang. Anak-anak pun juga terlihat riang saat menyeberang. Walaupun ada juga yang terlihat sangat takut dan berhati-hati sambil terus melihat ke bawah saat menyeberang. Tapi saya juga heran, mengapa mereka tidak menambahkan papan kayu untuk memperlebar jalan pijakan untuk memperkecil resiko kecelakaan.

Advertisements