Puluhan tengkorak yang sudah berlumut menyambut dengan gigi-gigi mereka yang sudah tanggal, ketika kami memasuki area pemakaman. Tengkorak-tengkorak itu tersusun rapi tepat di sebelah kiri pohon besar yang menjulang tinggi dengan akarnya yang kokoh di depan kami. Pohon Taru Menyan.

Siang itu, saya bersama dengan sembilan teman saya mengunjungi Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Perjalanan kali ini saya gunakan untuk menjawab rasa penasaran masa kecil tentang budaya pemakaman di Desa Trunyan. Ya, saya tahu tentang Trunyan sekitar 20 tahun yang lalu. Saat itu, salah seorang guru saya menjelaskan bagaimana warga Desa Trunyan memakamkan mayat hanya dengan meletakkan jasad orang yang meninggal di bawah pohon Trunyan, tidak dibakar seperti halnya masyarakat Bali lainnya maupun dikubur di dalam tanah. Unik bukan?!

Bersama Ketut, pemandu kami yang memang warga asli Trunyan, mobil kami berpacu melintasi jalan kecil tepat di tepi Danau Batur. Perjalanan kami tidaklah mudah, karena jalan menuju Desa Trunyan berliku-liku dan sempit. Beberapa kali mobil mengerang mendaki jalan yang curam. Walaupun begitu, danau dan Gunung Batur di sebelah kiri kami menyuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata.

IMG_8816

Setelah 20 menit, akhirnya kami tiba di Desa Trunyan yang tepat berada di sebelah timur Danau Batur. Danau Batur dan Desa Trunyan sebenarnya terletak di kaldera atau cekungan bekas letusan Gunung Batur di masa lalu. Untuk menuju area pemakaman, kami meneruskan perjalanan dengan menggunakan kapal kayu. Sepanjang perjalanan, kami sempat berpapasan dengan beberapa nelayan yang sedang menjaring ikan maupun mendayung di atas perahu kayunya. Sekitar 10 menit menikmati tenangnya air Danau Batur, kapal kami menyandar di dermaga tepat di depan gapura makam.

This is it! Mendaratkan kaki di dermaga kayu, saya sudah bersiap-siap untuk mendaki bukit di depan kami menuju area pemakaman. Bismillah. Ditemani Ketut, kami melintasi gapura dan eng ing eng!! Baru sepuluh langkah dari gapura, Ketut berkata, “Ya..inilah lokasinya!”. “Yaelah…kirain masih jauh naik ke bukit, eh ternyata makamnya cuma di sini,” pikir saya.

Tepat di sebelah kiri tumpukan tengkorak-tengkorak, anyaman bambu berbentuk prisma atau ancak saji tampak berjejer dihiasi dengan payung dan sesajen. Di dalam ancak saji inilah jasad-jasad itu disemayamkan. Di sebelah kirinya lagi, tulang-tulang tampak berserakan bersama dengan serasah kayu dan dedaunan. Secara sekilas, area pemakaman ini bisa dibilang tidak terlalu bersih dan terawat.

Anyway, kok tidak bau busuk ya?? Benar saja cerita yang aku dengar selama ini. Walaupun terpapar udara bebas, bau proses pembusukan jasad yang disemayamkan sama sekali tidak tercium. Kenapa? Ya, pohon Taru Menyan jawabannya. Pohon Taru Menyan dipercaya menyerap bau dari jasad yang disemayamkan di dekatnya sehingga jasad-jasad yang mengalami proses pembusukan itu tidak bau sama sekali. Ya, tidak bau sama sekali. Ajaib bukan?!

Ketut menjelaskan bahwa ada jasad yang baru disemayamkan tiga hari yang lalu. Saya pun penasaran dengan kondisi jasad tersebut. Melalui sela-sela anyaman bambu, mata saya mengintip ke dalam. Beuh! Tampak bagian wajah jasad itu yang mulai bengkak dan dikerumuni lalat. Saya bidikkan kamera dan rasa mual pun muncul tak terelakkan walaupun tidak tercium bau busuk sama sekali. Aish! (Terlalu mengerikan untuk dipajang di sini fotonya :D).

“Di sini, jasad yang boleh disemayamkan adalah jasad orang dewasa yang sudah menikah, meninggal secara wajar, dan tidak memiliki luka atau cacat. Anak-anak dan orang yang meninggal secara tidak wajar, seperti karena kecelakaan ataupun dibunuh, tidak boleh dimakamkan di sini dan ada lokasi pemakaman lain yang khusus untuk mereka,” jelas Ketut sambil berdiri di depan kami. Selain itu, hanya warga Desa Trunyan yang boleh disemayamkan di tempat ini. Warga Desa Trunyan sendiri sebenarnya termasuk masyarakat Bali Aga atau orang Bali asli.

Kata Trunyan sendiri berasal dari dua kata, yaitu ‘Taru’ yang berarti pohon dan ‘Menyan’ yang berarti harum dalam bahasa Bali. Taru Menyan merupakan pohon yang disakralkan oleh masyarakat Desa Trunyan yang konon mengeluarkan aroma yang sangat harum. Tidak ada yang mengetahui secara pasti umur dari pohon ini. Yang pasti, pohon ini sudah ada terlebih dahulu dibandingkan desa ini, karena nama Desa Trunyan diilhami dari nama pohon Taru Menyan.

“Paling banyak 11 jasad yang boleh disemayamkan di tempat ini,” papar Ketut. Dulu pernah disemayamkan 12 jasad, namun malah tercium bau jasad yang membusuk. Mungkin pohon Taru Menyan ini hanya mampu menetralisisasi bau dari 11 mayat.

Bali

Ritual pemakaman ini harus dilakukan pada hari yang baik. Mulai dari pembuatan ancak saji, penyiapan sesajen dan pakaian madya untuk jasad hingga proses pemakaman. Untuk menyemayamkan jasad yang baru, tulang belulang di dalam ancak saji yang paling lama diambil dan selanjutnya ditempatkan mengonggok bersama tumpukan tulang-tulang lain di sebelah kiri jejeran ancak saji. Setelah bekas persemayaman dibersihkan, barulah jasad yang baru dibaringkan dalam kondisi telanjang dan ditutupi pakaian, kemudian dipagari dengan ancak saji. Semua ritual ini dilakukan dalam satu hari.

“Perempuan asli Desa Trunyan tidak diperbolehkan memasuki area ini karena mereka percaya bahwa jika sampai hal ini (perempuan memasuki areal pemakaman) terjadi maka bencana akan menimpa desa mereka. Namun, perempuan yang berasal dari luar Desa Trunyan tetap diperbolehkan masuk ke area ini,” tutup Ketut mengakhiri kunjungan kami.

Well, lega rasanya akhirnya rasa penasaran saya terobati. Namun, satu hal yang disayangkan dari Desa Trunyan dan lokasi pemakaman ini adalah masih banyak warga yang meminta-minta uang dari kami dan pengunjung lainnya.

Advertisements