Dengan mulut yang menganga, ikan sepanjang kurang lebih 5 meter itu menuju ke arah saya. Saya berpikir dia akan mencoba melahap ataupun menabrak saya. Rupanya ikan raksasa berwarna abu-abu dengan totol-totol putih ini hanya menghisap dan menyaring air, kemudian berbelok arah melintas dengan tenang di samping saya tanpa merasa terganggu kehadiran saya.

Mouth of the Giant

Hiu Paus/whale shark (Rhincodon typus)Β atau Gurano Bintang atau Hinio Tanibre, begitulah masyarakat di Teluk Cenderawasih memanggil ikan terbesar di dunia itu. Di Teluk Cenderawasih, hiu paus dapat ditemukan di perairan sekitar Desa Kwatisore, Kabupaten Nabire, yang masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Di perairan Kwatisore, jumlah populasi hiu paus ada lebih dari 50 ekor yang sudah pernah diidentifikasi. Pasti ada sesuatu yang istimewa secara ekologi dengan perairan di Kwatisore, entah itu apa masih menjadi misteri. Namun, sesuatu yang tampak jelas adalah di perairan ini terdapat banyak bagan yang mampu menarik perhatian hiu paus. Bagan yang banyak terdapat di perairan Kwatisore adalah jenis bagan perahu – salah satu jenis alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis kecil dengan menggunakan jaring dan perahu. Bagan ini biasanya beroperasi pada malam hingga pagi hari.Kwatisore

Si raksasa cenderung mendatangi bagan untuk mendapatkan ikan puri secara mudah. Nelayan biasanya memberi makan hiu paus dengan ikan puri yang tidak dijual ataupun yang sudah mati. Selain itu, hiu paus ini juga seringkali menyedot ikan-ikan puri yang ada di dalam jaring yang masih terendam di dalam air.

β€œJangan berenang terlalu dekat dengan hiu paus,” begitu kata seorang pemandu yang menemani kami. Walaupun hiu paus bersifat jinak, menjaga jarak aman memang sudah menjadi aturan, ketika kita berinteraksi dengan biota liar ini. Hal ini demi keselamatan dan kenyamanan kita sendiri dan si raksasa ini juga. Coba bayangkan dan rasakan jika ekornya yang besar dan keras itu dikibaskan dan mengenai badan kita! Lumayan juga rasanya. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan agar hiu paus tidak merasa terganggu dengan kehadiran, sentuhan, dan jenis interaksi lainnya yang bisa mengubah perilaku biota liar ini.

Rasa penasaran itu akhirnya terbayarkan juga ketika si raksasa memperlihatkan magisnya dengan gerakannya yang terlihat begitu elegan, seolah-olah menyadari dirinya menjadi pusat perhatian kami yang berenang di sekitarnya. Tidak bosan untuk menghabiskan hari dengan berenang bersama hiu paus. Mau mencoba?!

Advertisements