“Inilah yang saya tunggu, penari itu pun mulai membelalakkan matanya dan melirik dengan tajam. Saya tidak bisa menyangkal, auranya terasa “Bali” sekali!”

Bali Dancer
Bali Dancer

Perjalanan saya pada Juni 2012 lalu merupakan untuk yang kedua kalinya di Bali. Tujuan saya kali ini adalah mengikuti workshop tentang Reef Resilience yang diselenggarakan oleh The Nature Conservancy US. Pada kesempatan kedua ini, saya lebih beruntung dari kunjungan pertama saya tahun 2009. Kali ini saya ada kesempatan untuk mengunjungi Amed untuk melakukan field trip. Soalnya yang selama ini saya tahu tentang Bali hanya Sanur dan sekitarnya. Belum ada kesempatan untuk main ke tempat-tempat lain di Bali.

Sebenarnya, tidak ada banyak kesempatan untuk memotret di sela-sela kegiatan workshop yang sangat padat. Namun, saya tidak ingin melewatkan kesempatan saya di Bali. Sambil curi-curi waktu, tentunya dengan sahabat yang selalu setia menemani dalam setiap perjalanan saya, Canon EOS 500D 18-55 mm, saya sempat memotret beberapa objek di Pantai Sanur dan sepanjang jalan menuju Amed.

Setelah subuh, saya menuju Pantai Sanur yang berjarak hanya 10 menit jalan dari hotel yang saya tempati. Tujuan saya adalah ingin memotret matahari terbit. Sayang, pagi itu matahari tampak malu-malu di belakang awan kelabu. Namun banyak objek lain yang masih bisa dilihat di Pantai Sanur.

Sementara, perjalanan menuju Amed sebenarnya lebih banyak saya habiskan dengan tidur. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dan saya ngantuk sekali 😀 Beruntung, mendekati Amed, saya terbangun dan mendapati panorama yang indah, bukit dan lembah yang dihiasi oleh sawah yang hijau menguning. Sementara, pak sopir keliatannya tidak “memahami” saya yang dari tadi mengambil gambar. Tidak banyak gambar yang bisa tidak ambil, karena mobil terus melaju.

Satu hal lain yang menjadi kejutan menyenangkan bagi saya adalah Tari Bali. Saya tidak menyangka panitia workshop meminta kepada hotel untuk mengadakan pertunjukan Tari Bali pada saat malam menjelang akhir kegiatan. “Mantab nih, bisa melihat Tari Bali secara langsung!” pikir saya. Memang, saya sendiri belum pernah menyaksikan Tari Bali secara langsung. Hanya melihatnya dari TV ataupun mendengar tentang tari Bali yang terkenal dengan penarinya yang memiliki pandangan dan lirikan mata yang tajam.

Malam itu, iringan musik khas Bali pun menyeruak dan membuyarkan obrolan dan makan malam kami. Tidak lama kemudian, para penari bermunculan dari belakang panggung. Saya pun takjub dengan gerakan-gerakan para penari yang sangat padu dengan iringan musik. Inilah yang saya tunggu, penari itupun mulai membelalakkan matanya dan melirik dengan tajam. Saya tidak bisa menyangkal, auranya terasa “Bali” sekali!

All pictures are copyrighted to Edy Setyawan.

Advertisements