“….Kami sangat beruntung, karena seekor Tarsius masih terlihat bertengger di tangkai pohon di dekat sarang. Layaknya artis, cahaya blitz kamera kami langsung menghujani Tarsius yang mungil itu…..”

Mungkin perjalanan saya kali ini merupakan salah satu yang paling seru. Mengejar Tarsius di hutan Taman Nasional Tangkoko, Sulawesi Utara. Mengejar di sini bukan berarti memburu, melainkan mengejar waktu sebelum Tarsius ini pergi dari sarangnya.

Saya melakukan perjalanan ke Taman Nasional Tangkoko pada Juni 2009 lalu. Taman Nasional Tangkoko ditempuh selama 2-3 jam dari Manado, Sulawesi Utara. Sore itu, sekitar jam 5, saya bersama-sama rekan-rekan saya masih berada di dalam mobil menuju Taman Nasional Tangkoko. Perjalanan kami masih cukup jauh, padahal pada saat itu, kami seharusnya sudah berada di sana. Yang jadi masalah adalah, Tarsius biasanya keluar dari sarangnya pada saat matahari mulai tenggelam mendekati malam. Sementara, kami masih harus menempuh perjalanan ke sarang Tarsius dari pintu Taman Nasional dengan berjalan kaki selama lebih kurang 30 menit.

Dengan sedikit ngebut, sopir memacu mobil yang kami tumpangi. Akhirnya, kami tiba 30 menit kemudian, jam 17.30 WITA. Kedatangan kami di pintu gerbang Taman Nasional langsung disambut oleh pemandu yang akan membawa kami menuju sarang Tarsius. “Mari kita segera berangkat, sebelum Tarsius itu pergi!” ujar sang pemandu. Dengan bersenjatakan senter sang pemandu berada depan kami. Saya bersama ketujuh rekan-rekan saya, juga dipersenjatai dengan senter, walaupun tidak semua. Perjalanan ke sarang Tarsius kami tempuh dengan sedikit berlari. Selain itu, sarang Tarsius yang terdapat di bukit membuat kami cukup ngos-ngosan. Sampai-sampai rekan saya yang berbadan cukup gemuk ketinggalan jauh di belakang.

Dengan keringat yang telah bercucuran, akhirnya kami sampai di sarang Tarsius. Sarang ini sebenarnya merupakan sebuah pohon besar yang di batangnya terdapat celah-celah yang dijadikan sarang oleh Tarsius. Kami sangat beruntung, karena seekor Tarsius masih terlihat bertengger di tangkai pohon di dekat sarang. Layaknya artis, cahaya blitz kamera kami langsung menghujani Tarsius yang mungil itu. Terlihat kasihan. Dengan mata yang berkaca-kaca dan bingung, Tarsius yang baru keluar sarang itu mungkin masih merasa ngantuk dari tidur siangnya dan kaget dengan situasi “ekstrim” yang dihadapinya. Tarsius itu  terus berpindah-pindah dengan meloncat ke tangkai atau dahan pohon di dekatnya untuk menghindari kami. Namun, kesempatan ini tidak ingin kami lewatkan dengan begitu saja untuk terus menbidikkan kamera kami ke Tarsius itu.

Tarsius merupakan primata terkecil di dunia dengan ukuran hanya sebesar genggaman tangan (± 10 cm). Hewan ini termasuk hewan nokturnal yang tidur di siang hari dan hanya keluar di malam hari saja. Tarsius memiliki rambut yang berwarna coklat dan bola mata yang besar dan bulat. Jari-jari kaki dan tangannya berukuran panjang yang memungkinkan Tarsius untuk menggenggam tangkai atau ranting pohon. Ekornya sangat panjang dan tidak berambut, kecuali pada ujung ekornya saja. Tarsius di Taman Nasional Tangkoko termasuk jenis Tarsius spectrum

Setelah sekitar 30 menit, akhirnya Tarsius itu pergi menjauh untuk mencari makan. Alhamdulillah…tidak sia-sia kami berlari-lari dengan keringat bercucuran demi melihat Tarsius di Taman Nasional Tangkoko. It was my first time to see Tarsius 🙂

Advertisements